Saturday, 27 September 2014

Pelancongan Syariah, Negara Non-Muslim Cabar Negara Orang Islam..

Negara non muslim ini lebih gencar kembangkan wisata syariah Bas pelancong di Bandung.


Jakarta: Potensi pelancongan syariah diramal akan terus berkembang dan membesar di dunia. Ironinya, negara dengan majoriti Muslim seperti Indonesia tidak menyambut potensi ini dengan baik. Negara non muslim malah lebih maju dan lancar mengembangkan pelancongan syariah.

Ketua Pengarah Pemasaran Pelancongan Kemenparekraf, Esty Reko Astuty Indonesia menyebut, negara non muslim sudah menentukan target mereka dalam membuat produk halal. Mereka membuat pelancongan halal yang mengimbangi spiritual dengan pekerjaan.

"Non muslim menjadikan negara muslim sasarannya. Mereka membuat pakej produk halal, seperti New Zealand, Jepun, dan Eropah hingga Hong Kong. Mereka yang membuat 'pakej halal' itu termasuk China dan Argentina juga," ucap Esty dalam acara seminar di Hotel Sofyan, Jakarta, Sabtu (27/9).

Esty mensasarkan, ke depannya Indonesia perlu gencar dan lancar membangunkan dan mempromosikan pasaran pelancongan syariah. Jika tidak, maka muslim yang ramai di Indonesia hanya akan menjadi pasaran empuk.

"Ada 7 minat khusus yang terus kita tawarkan, satu khusus itu ialah pelancongan-syariah. Trend perkembangannya cukup pesat, mencari gaya hidup sihat, mesra alam. Tetap menilai spiritual. Keseimbangan kehidupan dalam bekerja," katanya.

Potensi nilai pelancongan syariah dunia tahun 2012 menembus angka US $ 137 bilion per tahun. Angka ini diramal terus meningkat sehingga US $ 181 bilion di 2018. Namun ini belum digarap serius oleh Indonesia. (IH)

Tuesday, 16 September 2014

Jumlah miliarder Indonesia tertinggi di dunia



JAKARTA - Bisnis wealth management di seluruh dunia sedang menyoroti Indonesia karena jumlah miliarder di tanah air meningkat pesat. Indonesia berada di posisi pertama dalam daftar sepuluh negara dengan persentase pertumbuhan miliarder tertinggi di dunia, yang dirilis oleh WealthInsight pada Januari lalu.

Angka pertumbuhan miliarder di Indonesia mencapai 22,6% dari jumlah semula yang 37 ribu pada 2013 dan mencapai lebih dari 45.300 pada 2014. Angka ini bahkan melampaui Tiongkok (7,9%) dan India (17,1%).join_facebookjoin_twitter

Bila melihat komponen investasi para miliarder Indonesia, yang juga dikenal dengan High-Net-Worth Individuals (HNWI), properti dan saham adalah dua alokasi investasi terfavorit. Bila porsi keduanya dijumlahkan, maka bisa mencapai 50% dari alokasi aset total para HNWI di Indonesia.

Oleh karena itu, kenaikan harga yang kuat dalam sektor real estate dan pasar saham yang sehat dalam beberapa tahun terakhir merupakan pendorong utama banyaknya orang Indonesia yang kemudian masuk ke dalam kalangan HNWI. Kuatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia pun turut mendorong munculnya para miliarder baru.

Head of Consumer Banking Group DBS Indonesia Steffano Ridwan mengatakan, DBS Indonesia melihat bahwa para miliarder Indonesia telah semakin dewasa dalam mengelola keuangan. Oleh karenanya, menjadi semakin penting bagi lembaga-lembaga keuangan di Indonesia untuk memahami tren di kalangan HNWI sehingga dapat memberikan pelayanan terbaik kepada kalangan miliarder yang semakin berkembang ini.

"Berdasarkan analisis kami, terdapat setidaknya tiga tren utama bagi HNWI di Indonesia," katanya dalam laporan resmi di Jakarta, hari ini.

Dengan pasar HNWI yang semakin dewasa dalam hal finansial, mereka menuntut produk investasi yang lebih canggih. Penyedia jasa keuangan harus mampu melayani nasabah dengan produk-produk investasi yang sesuai dengan selera risiko (risk appetite) mereka.

Di Indonesia, lembaga perbankan hanya dapat menawarkan produk-produk investasi dalam negeri (inshore), sedangkan perusahaan penyedia layanan wealth management di luar negeri dapat membantu klien dalam diversifikasi risiko investasi mereka di luar negeri (offshore).

Dengan pertumbuhan ekonomi Asia yang begitu cepat, HNWI sangat haus akan informasi terbaru dari pasar. Relationship manager saat ini harus mampu membekali para HNWI dengan pemahaman yang kuat dan tidak terbatas pada pasar lokal, melainkan juga pada informasi pasar terbaru di ranah regional.

"Mereka harus berperan sebagai penasihat keuangan dan oleh karena itu, harus dilengkapi juga dengan wawasan yang mumpuni tentang pasar di Asia," tukasnya.

Sementara itu, ledakan dunia digital tidak hanya terjadi di kalangan pasar dengan usia lebih muda dan kelas menengah saja. Berdasarkan World Wealth Report 2014, sebanyak 82 persen dari HNWI di Asia Pasifik (kecuali Jepang) menuntut kemampuan digital dari perusahaan wealth management.

Perangkat digital dan mobile akan memungkinkan klien untuk bertransaksi dengan mudah. Mereka pun menuntut akses terhadap informasi real-time dalam memenuhi kebutuhannya terhadap asupan nasihat keuangan. Lembaga-lembaga keuangan atau perusahaan pengelola investasi harus mengadopsi tren digital agar tetap kompetitif di masa yang akan datang.

"Tidak diragukan lagi, pasar wealth management di Indonesia memang sangat besar. Untuk itu, pelaku industri dan regulator harus bekerjasama untuk memanfaatkan momentum ini," ucap dia.

Oleh karena itu, perlu terus memaksimalkan keyakinan dari kalangan HNWI dalam mempercayakan pengelolaan instrumen investasinya pada industri keuangan di Indonesia. Berdasarkan tren di atas, maka tiga kunci utamanya meliputi diversifikasi produk, optimalisasi peranan SDM, dan pengembangan layanan berbasis digital.

Sekadar catatan, HNWI merupakan kalangan dengan kekayaan pribadi di atas Rp11 miliar (di atas US$1 juta).

WASPADA ONLINE

Friday, 5 September 2014

Sindiket ‘love scam’: 1,750 mangsa ditipu, rugi RM68 juta




Seramai 1,750 individu dilapor menjadi mangsa sindiket penipuan Internet atau "love scam" sejak Januari 2013 hingga Ogos tahun ini, yang membabitkan jumlah kerugian kira-kira RM68 juta.

Pengarah Jabatan Siasatan Jenayah Komersial (JSJK) Bukit Aman Datuk Seri Mortadza Nazarene berkata daripada jumlah itu, sebanyak 1,205 mangsa adalah wanita manakala bakinya ialah lelaki (545 orang).

"Berdasarkan laporan yang diterima polis, sejumlah 1,095 mangsa pada tahun lepas mencatatkan jumlah kerugian RM35.6 juta manakala setakat Ogos tahun ini, sejumlah 655 individu menjadi mangsa dengan jumlah kerugian lebih RM32 juta," katanya.

Beliau berkata demikian dalam sidang media di Ibu Pejabat JSJK Bukit Aman, Kompleks Kerajaan, Bukit Perdana di Kuala Lumpur hari ini.

Walaupun jumlah mangsa menurun, nilai kerugian mencatat peningkatan dan ini amat membimbangkan terutama kepada golongan wanita, katanya. –  Bernama, 4 September, 2014.

Friday, 22 August 2014

Israel Ingin Hancurkan Ekonomi Gaza


Israel Ingin Hancurkan Ekonomi Gaza
Selain mengincar para pejuang Hamas, Israel dikatakan mempunyai agenda yang lebih berbahaya bagi kelangsungan Palestin. Israel dituduh berupaya membawa ekonomi Palestin ke jurang kehancuran.

Pengakuan ini disampaikan pemilik kilang terbesar di Gaza yang hancur lebur kerana serangan meriam dan roket Israel.

Tudingan kemusnahan ekonomi Gaza memang sukar dibuktikan, namun ratusan kilang di Gaza kelihatan hancur akibat gelombang kemusnahan yang lebih besar berbanding jumlah kerosakan dua perang sebelumnya.

Pegawai rasmi Israel mendakwa serangan selama beberapa kilang hanya disasarkan pada lokasi-lokasi yang didakwa menjadi sarang para pengganas. Namun, Israel masih harus mengumpulkan bukti-bukti untuk tuntutan itu.

Aymad Hamada pemilik kilang makanan tin minggu lalu melintasi runtuhan kerajaan perniagaan yang dibangunnya. Hamada menggaji 150 orang dan menjual salah satu jenama pasta tomato terkenal di Gaza. Bara api masih mengepul dari kilangnya yang bernilai US $ 5 juta.

"Saya berusia 45 tahun. Jujur saya selalu berfikir Israel masih mempunyai moral dan pemikiran logik. Kali ini, saya menyaksikan mereka menyerang terus-terusan kilang kami," katanya. "Israel takkan melakukan kesalahan seperti ini."

Mengutip laporan washingtonpost, Kamis, 21 Ogos 2014, para pengusaha di Gaza mengatakan mereka seolah tersepit di antara Mesir, pejuang Hamas dan Israel, yang mengenakan sekatan perdagangan dan pelancongan. Serta melarang Gaza mendirikan dan mengendalikan lapangan terbang atau pelabuhan.

Sementara itu, Israel tetap pada pendiriannya bahawa kilang-kilang yang mereka serang digunakan sebagai tempat pengeluaran senjata dan roket. Para pegawai tentera Israel menegaskan bahawa kilang-kilang tersebut sah sebagai 'sasaran tentera'.

Untuk diketahui, sejumlah kilang berdiri di Gaza terutama di sepanjang sempadan dengan Israel.

"Kami tidak diperintahkan menghancurkan kilang-kilang," kata Lt Kol. Eran Shamir-Borer, seorang pegawai tentera di Dewan Penasihat Tentera Israel. "Anda tidak boleh menyerang ekonomi musuh." Ditambahkannya, menyerang penopang perekonomian musuh dinilai melanggar peraturan antarabangsa dan dianggap sebagai jenayah perang.

Namun Israel tidak dapat membuktikan kenyataan beliau tidak mensasarkan kilang-kilang di Gaza. Pegawai tentera Israel menyalahkan Hamas yang menggunakan bandar padat penduduk sebagai asas pertahanannya sehingga timbul korban tewas dari awam yang tidak sedikit.

Dalam catatan terbarunya, PBB melaporkan bahawa 1.975 orang Palestin terbunuh oleh serangan Israel, sebahagian besar daripada mereka orang awam. UNICEF mengatakan bahawa 457 korban tewas adalah anak-anak. Sementara para pegawai tentera Israel mengatakan mereka telah membunuh kira-kira 900 "pengganas".

Di sisi Israel, 64 tentera dan tiga orang awam, termasuk seorang pekerja asing, tewas. (IH/D)

Tuesday, 12 August 2014

Penggabungan bank untungkan siapa?


 
Oleh DR DZULKEFLY AHMAD 

CADANGAN penggabungan bank sekali lagi mengambil pentas utama dalam sektor kewangan negara mutakhir ini.

Saya ditanya pihak media apakah ia punya hubungan dengan persiapan mendepani cabaran era persaingan yang lebih sengit setelah Perjanjian Perkongsian Trans-Pasifik (TPPA) ditandatangani.

Setelah saya ditanya media dan mungkin sahaja boleh 'diputar’ atau ‘spin’ oleh pihak media bagi menyokong atau membantah sesuatu maksud, lebih baik saya terus menulis sahaja artikel berhubung tajuk ini.

Menubuhkan sebuah bank bersifat mega dan mempunyai aset yang lebih besar, logiknya akan memberi keupayaan untuk lebih mampu bersaing. Begitulah agaknya tanggapan umum. Kalau diberitahu oleh pihak kerajaan akan keperluannya begitu, akan pasti diangguk dan diterima sahaja oleh rakyat.

Untuk peringatan umum, kali terakhir ‘penggabungan bank’ berlaku secara besar-besaran adalah pada era Tun Dr Mahathir Mohamad setelah kegawatan kewangan 1997.  Malaysia yang ada 58 institusi kewangan dan perbankan diarah bergabung menjadi enam ‘anchor bank'.

Tidak ramai yang ingat bahawa ‘konflik kepentingan’ antara Tun M dan Tun Daim Zainudin, setelah menggantikan Dato' Seri Anwar Ibrahim yang dipecat sebagai Menteri Kewangan, berakhir dengan menyaksikan jumlah 'anchor bank' menjadi 10 buah. Tun Daim yang berebut dengan Mokhzani Mahathir untuk mengambil alih ‘control’ salah satu ‘anchor bank' tersebut.

TRADISI SONGSANG

Peristiwa ini juga merakamkan sejarah yang menyaksikan Tun M melantik dirinya sebagai Menteri Kewangan dan sehingga kini tradisi ‘songsang’ ini diteruskan secara ‘komplian’ oleh Dato' Seri Abdullah Ahmad Badawi dan kini Dato' Seri Najib Razak.

Penguasaan terhadap Kementerian Kewangan sekali gus memberikan Presiden Umno kawalan ke atas sektor kewangan negara yang sebahagian besarnya adalah dalam pemilikan kerajaan melalui syarikat-syarikat kaitan kerajaan (GLC) mengikut dapatan Dr Terrence Gomez, seorang profesor ‘Political Economy’ di Universiti Malaya.

Untuk ingatan umum, semasa Krisis Kewangan Asia 1999, bebanan hutang tak berbayar (NPL) seumpama ditanggung Sime Bank (nama asal UMBC) dan Bank Bumiputra, yang 'dikontrol' oleh kerajaan, mencecah RM21 bilion daripada sejumlah RM28 bilion seluruh NPL dalam negara.

Bank Bumiputra digabung dengan Bank of Commerce menjadi sebahagian daripada CIMB Holding Group. Sementara itu, Sime Bank digabungkan dengan RHB Bank yang umum mengetahui dimilikki oleh Tan Sri Rashid Hussain. Ketika Rashid Hussain ‘bermasalah’ dengan pimpinan Umno, kepentingan RHB diambil oleh Ketua Menteri Sarawak, Taib Mahmud melalui penggabungan dengan Bank Utama dan dana KWSP memiliki pegangan saham majoriti.

SKANDAL UMBC

RHB itu sendiri adalah hasil penggabungan antara Kwong Yip Bank yang dibeli daripada Malayan Banking dan Bank D&C yang ditubuhkan oleh bekas Menteri Kewangan HS Lee dan dimiliki oleh anaknya Alex Lee, seorang pimpinan kanan Parti Gerakan, yang juga rapat dengan Tun M dan Daim.

Meneliti sejarah CIMB dan RHB secara lebih khusus akan menyerlahkan dakwaan tentang bagaimana sektor kewangan ini sememang menjadi perebutan dan dikawal rapi oleh kepentingan penguasa politik dan elit bisnes.

Umno pada 1975 mengambil alih sebuah bank berpangkalan di Sarawak iaitu Bank Bian Chiang dan dijenamakan kembali sebagai Bank of Commerce, yang sepatutnya bergabung dengan UMBC (United Malayan Banking Corporation) milik Daim pada 1985 tetapi gagal dilaksanakan. Peristiwa yang diberi jolokan “UMBC Scandal” berakhir dengan saham Daim dalam UMBC dijual kepada Pernas.

UMBC kemudiannya berada di bawah 'kontrol' Datuk Keramat Holding dan koperasi Umno, KUB. UMBC mengalami pelbagai masalah tadbir-urus dan skandal pinjaman, sehingga beralih kawalan di bawah Sime Darby, sebuah GLC awam. UMBC mengalami penjenamaan semula dengan nama Sime Bank yang kemudiannya bergabung dengan RHB.

Pada 10 Julai lalu, pasaran kewangan kembali sibuk dengan berita bahawa penggabungan antara CIMB Group Holding, RHB Capital, dan Malaysian Building Society Bhd (MBSB) sedang dalam proses pembikinan. Ia sekali gus akan menampilkan sebuah institusi kewangan Islam terbesar di Asia Tenggara.

Ia akan membentuk sebuah bank mega dengan aset sejumlah RM613.7 bilion, mengatasi bank utama dan terbesar di Malaysia, iaitu Maybank Bhd yang memiliki aset sebanyak RM578 bilion.

TUJUAN PENGGABUNGAN

Nah, apakah tujuan penggabungan buat kali ini? Ramai yang ingin tahu. Apakah cakap tentang perlaksanaan TPPA puncanya?

Yang jelasnya daripada sedikit pengkisahan dan naratif penggabungan perbankan di atas, ia adalah lebih tepat lagi untuk konsolidasi kuasa dan 'kontrol-kawalan' pihak keajaan dan elit bisnes. Maka  dalam pusingan kali ini pun, penulis cenderung untuk membuat telahan bahawa ia juga bermatlamat sedemikian.

Siapa yang mendapat keuntungan segera daripada proses penggabungan ini tidak perlu dipertikaikan kerana umum sudah sangat faham dan tahu bank mana yang kerap diberikan tugasan melaksanakan kegiatan M&A atau penggabungan dan pembelian seperti ini.

Tidak ada penganalisis kewangan pun yang diperhatikan penulis secara jelas menyokong penggabungan bank menjadi sebuah ‘mega bank’ sebagai langkah yang bijak dan wajar dalam mendepani cabaran TPPA.

Sebaliknya proses pergabungan yang dizinkan Bank Negara Malaysia (BNM) untuk dilunaskan dalam 90 hari itu, dilihat sebagai berpotensi mencetuskan pelbagai masalah kompleks dalam proses integrasi atau penggabungan serta menampilkan pelbagai risiko dan cabaran.

Kekhuatiran ini dilahirkan oleh sebuah agensi penarafan antarabangsa Fitch Ratings. Isu-isu yang dibangkit Fitch Rating adalah sangat munasabah bersabitan proses integrasi yang kompleks di antara CIMB dan RHB yang dirumitkan lagi dengan kmasukan MBSB yang bukan sebuah bank. Juga Fitch Ratings menelah kemungkinan akan melemahkan ‘capital buffer’ bagi CIMB kalau tidak dibantu dengan suntikan ekuiti baru yang mencukupi.

PEKERJA MENJADI MANGSA

Tidak kurang juga ada pihak-pihak yang akan menjadi mangsa dan dimangsakan seumpama pekerja-pekerja dan pemilik saham minoriti, seperti biasa.

Maka tidak hairanlah, cadangan penggabungan CIMB Group Holding, RHB Capital, dan Malaysian Building Society Bhd (MBSB) ini telah ditentang oleh beberapa pihak. Masing-masing punya sebab untuk menolak penggabungan.

Putrajaya berdepan kritikan terhadap cadangan penggabungan ini apabila kesatuan perbankan nasional, pemimpin Umno sendiri dan kerajaan Abu Dhabi membantah pembentukan bank terbesar negara itu.

Abu Dhabi (melalui Aabar Investment PJS) pemilik 21.4% saham RHB, mahu memastikan mereka mendapat harga bayaran saham terbaik. Mereka turut mengugut Putrajaya untuk menarik balik pelaburan berbilion ringgit bagi projek Rapid Petronas di Pengerang. Isunya adalah harga saham.

Sementara Abu Dhabi khuatir tentang kepentingan mereka tidak diambil kira dalam proses penggabungan ini, Presiden Kesatuan Kebangsaan Pekerja-pekerja Bank (NUBE), menyuarakan rasa tidak puas hati dengan Bank Negara kerana tidak dibawa berunding bersama.

Secara lebih khusus mereka mahu pastikan nasib pekerja-pekerja bank terjamin selepas penggabungan. Penggabungan pusingan pertama meninggalkan pekerja sebagai mangsa ‘collateral damage’ dalam ‘perang korporat’ merebut kuasa dan 'kontrol'.

NEPOTISME

Pemimpin Umno membantah kerana mereka akan dituduh mengamalkan nepotisme dan kronisme kerana CIMB diterajui adik kepada PM Najib iaitu Dato' Seri Nazir Razak.

Kalau benar mewujudkan sebuah Mega Bank Islam adalah penting maka mengapa tidak diberikan kepada Maybank, bank milik negara, yang juga mahu membeli RHB sedikit waktu dahulu? Jelas persepsi tentang amalan kronisme Putrajaya sekali lagi berbangkit.

Ketiga-tiga institusi ini mempunyai satu persamaan yakni dimiliki oleh KWSP, yang berkebetulan di bawah penguasaan Menteri Kewangan dan Perdana Menteri. Tidak dapat tidak ‘masalah persepsi’ tentang amalan kronisme sukar untuk dinafikan ketika Najib memilih Nazir melalui CIMB dan tidak pula Maybank untuk melaksanakan mewujudkan Mega Bank Islam ini.

Benar Nazir akan diganti Dato' Zafrul Abdul Aziz, selaku CEO baru CIMB namun Nazir disamping akan mengambil alih Pengerusi Lembaga akan juga menjadi Pengerusi sebuah ‘Jawatankuasa Eksekutif’ yang bakal ditubuhkan CIMB yang berperanan dalam penentuan polisi dan urusan strategik pelaburan.

Maka persoalan yag perlu dijawab Najib dan pentadbirannya di Putrajaya adalah, apakah penggabungan ini mencetuskan ‘iklim’ dan menyuntik semangat dan keyakinan ‘pelabur’ terhadap sektor kewangan dan perbankan negara?

MEGA BANK

Penguasaan elit politik yang bersekongkol dengan elit bisnes adalah satu sindrom dan amalan yang sangat dibenci pelabur kerana acapkali meletakkan akhirnya mereka tidak bersaing di atas ‘padang sama-rata’. Ini akan bakal meneruskan kegiatan ’rent-seeking’, kronisme dan nepotisme dalam pelbagai kegiataan tadbir-urus yang dilhat dan dipandu oleh kepentingan ‘parokial’ pihak tertentu serta ‘greed’ atau tamak sekali gus merosakkan pasaran kewangan.

Sememangya betul penggabungan ini akan menjadi entiti ini keempat terbesar di segi 'aset' selepas DBS Group milik Singapura, Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) dan United Overseas Bank.

Sememangnya ia akan membenarkan entiti ‘Mega Bank’ ini melakukan ’leveraging'nya pada skala yang lebih besar di rantau ini dan mengizinkan pinjaman serantau atau ‘regional lending’ dan ‘pembiayaan perniagaan rentas sempadan’ atau ‘cross-border trade financing’ dapat dijalankan.

Juga kumpulan yang bergabung ini pastinya akan mempunyai yang terbesar dari segi keuntungan (profit), pinjaman (loan) dan jumlah pendeposit. Mereka juga akan dapat membuka lebih banyak lagi cawangan di Singapura apabila mendapat status ‘Qualifying Full Bank' (QFB).

Maybank yang kini memiliki 22 cawangan di Singapura sementara CIMB, selama kini gagal mendapat status QFB dan hanya ada dua cawangan di Singapura, Pusat Kewangan paling rancak di rantau ini. Sementara RHB punya tujuh cawangan. Ini yang diidam-idamkan CIMB bukan sangat kerana TPPA dan persaingan yang bakal dihadapi nanti.

BESAR BUKAN SEGALANYA

Namun seperkara juga yang perlu diingatkan bahawa pengalaman krisis 'sub-prima' di Amerika Syarikat membuktikan bahawa ‘besar bukan segala-galanya’. Pengalaman keruntuhan institusi kewangan membuktikan dakwaan ini. Lehmann Brothers, Bear Stearns dan Merill Lynch, AIG, Fannie Mae dan Freddie Mac adalah contoh-contohnya.

Kerajaan Amerika terpaksa memperkenalkan konsep ‘Too Big To Fail’ bagi menjustifikasikan ‘bantuan untuk menyelamatkan’ atau ‘bailout’ kerajaan Amerika ke atas gergasi-gergasi besar ini yang ditanggapi sebagai terlalu penting untuk negara, untuk mengelakkan mereka ini ‘gulung tikar’ bahkan sebaliknya mesti dibantu dan diselamatkan.

Dengan kata lain, sementara penggabungan membentuk bank mega itu ada kemunasabahannya, namun tetap faktor tadbir-urus korporat institusi kewangan atau perbankan dengan amalan terbaik atau ‘best practice’, telus dan mengamalkan keamanahan serta kebertanggungjawapan itu adalah jauh lebih penting dan penentu kritikal dalam meningkatkan prestasi dan daya-saing sesebuah entiti bisnes.

Masa akan menentukan siapa pihak yang mengaut keuntungan lumayan daripada penggabungan ini.- HARAKAHDAILY, 12/8/2014

Wednesday, 6 August 2014

Paderi Godfrey Usahakan Ladang Organik Banteras Kemiskinan.

AKTIVITI pertanian di Benin bertujuan mengatasi masalah kemiskinan, alam sekitar dan kekurangan pekerjaan dalam kalangan belia yang sedang melanda Afrika. 

BERTOPI panama dan bertongkat, Paderi Godfrey Nzamujo menggentas laluan Songhai, sebuah ladang organik yang beliau mulakan hampir 30 tahun lalu dengan tujuan membanteras kemiskinan dan migrasi penduduk luar bandar di Afrika.

Ladang kecil yang mula diusahakan pada tahun 1985 atas tanah seluas sehektar di Porto Novo itu kini menjadi projek perintis di benua Afrika demi meningkatkan pengeluaran hasil tanaman. Terus berkembang, ladang berkeluasan 24 hektar dan terletak di ibu negara Benin itu kini mempunyai bilangan pekerja dan perantis yang besar.

Mereka tidak mengenal makna penat lelah, membanting tenaga dari terbit fajar sehingga senja untuk menanam buah-buahan, sayur-sayuran, padi dan menternak ayam serta itik.

"Tiada istilah pembaziran kerana setiap bahan yang terhasil digunakan sepenuhnya," kata Nzamujo yang memberitahu hasil buangan ayam juga diproses kepada sumber biogas yang menjadi sumber tenaga di dapur utama pusat tersebut.

Matlamat utama

Walaupun Benin merupakan sebuah negara yang kecil, Songhai mempunyai rancangan yang besar bagi benua Afrika. Beberapa buah negara seperti Liberia, Nigeria dan Sierra Leone mengadaptasi aktiviti pertanian di Songhai. Ia merancang untuk memperluaskan rangkaian di 13 negara di bahagian barat dan tengah Afrika.

Matlamat utama Nzamujo menerusi usaha tersebut ialah untuk membantu rakyat Afrika meningkatkan hasil tani melalui penggunaan teknik yang mudah dan tanpa penggunaan racun perosak atau baja kimia, pada masa yang sama mengurangkan kos produksi serta melindungi alam sekitar.

Paderi yang berasal dari Nigeria dan dibesarkan di California, Amerika Syarikat (AS) itu berkata, berasa sedih menyaksikan kisah kebuluran di Afrika yang sering disiarkan di televisyen pada sekitar tahun 1980-an.

Imej itu menyebabkan beliau sanggup merantau ke Afrika dengan satu tujuan iaitu mempraktikkan ilmu yang dipelajari ketika menuntut di universiti. Mahir dalam bidang agronomi, ekonomi dan pengurusan teknologi, Nzamujo yakin dia mampu melawan kemiskinan dengan kaedahnya sendiri.
Selepas melawat beberapa buah negara di Afrika, pengembaraan beliau berakhir di Benin selepas kerajaan negara itu memberikannya sebidang lot tanah.

"Ia merupakan sebidang tanah terbiar dan tidak subur kerana diracuni bahan kimia disebabkan oleh kaedah pertanian konvensional," katanya kepada AFP.
SONGHAI lokasi aktiviti pertanian yang giat membangun menerima baik golongan perantis yang mahu aktif dalam industri agro itu. 

Tidak berputus asa, beliau dan enam individu lain mengusahakan tanah berkenaan.

"Kami menggali perigi dan menyiram tanah ini sendiri. Ketika musim kering, tanah berwarna kelabu ini berubah hijau kerana subur," ujarnya.

Rahsia Nzamujo dalam memastikan tanah tersebut subur ialah memahami konsep alam semula jadi dengan membiarkan bakteria baik hidup dalam tanah tanpa bergantung kepada penggunaan bahan kimia. Hasil tani di Songhai membuktikan usaha tersebut. Ladang itu menghasilkan tujuh tan beras bagi setiap hektar sebanyak tiga kali setahun berbanding satu tan sehektar sekali setahun pada peringkat awal projek tersebut.

"Songhai menangani tiga isu yang dihadapi Afrika pada masa ini iaitu masalah kemiskinan, alam sekitar dan peluang pekerjaan dalam kalangan belia," kata lelaki itu sambil tersenyum bangga.

Sistem yang dirangka paderi tersebut memberi tumpuan terhadap produksi dan pengedaran tempatan, menghasilkan aktiviti ekonomi untuk membanteras kemiskinan secara terus. Di Songhai, jem dibiarkan mereneh dalam periuk-periuk besar, sementara ayam dipanggang bersama minyak kacang soya. Selain itu, nasi dan jus buah-buahan dibungkus untuk dijual di kedai atau restoran di pusat tersebut.

Latihan

Mesin-mesin yang rosak diguna semula untuk menghasilkan mesin baharu dan air terpakai ditapis menggunakan keladi bunting. Pusat tersebut juga mempunyai kemudahan internet dan bank supaya penduduk tidak perlu bersusah untuk ke pusat bandar. Pengambilan pekerja belia amat digalakkan dengan hampir 400 perantis dipilih melalui satu pertandingan khas dan dilatih setiap tahun. Latihan yang mengambil masa 18 bulan itu diberikan secara percuma.

Paul Okou adalah di antara mereka yang terpilih. Lelaki berusia 25 tahun dari Parakou, utara Benin itu, mahu mengikut jejak ibu bapanya bertani tetapi berharap mampu menjana pendapatan yang lebih baik.

"Ibu bapa saya melakukan pertanian tradisional sementara Songhai mengajar kami kaedah moden. Kaedah dahulu yang memakan tempoh sehingga dua hari boleh dipendekkan kepada dua jam sahaja," katanya.

Perantis-perantis tersebut dihantar ke kawasan perkampungan untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari. Apabila sudah berjaya mengusahakan ladang mereka, individu terbabit akan menjalinkan kerjasama dan menjadi sebahagian daripada Songhai.

Songhai juga mengalu-alukan pelatih yang sanggup menanggung sendiri latihan mereka di pusat tersebut. Antaranya, Abua Eucharia Nchinor, 30-an, dari Nigeria dan Kemajou Nathanael, 39, dari Cameroon yang mahu membuka sebuah ladang organik di tanah air masing-masing. - AFP

Tuesday, 5 August 2014

Ikan patin: Sasar pendapatan RM5,000 sebulan

Oleh Mohd Sabran Md Sani

 JOM KREATIF 


Melihat ribuan ikan patin menyerbu roti yang dilemparkan ke sungai, ia pasti membuatkan sesiapa pun teruja. Ia antara pengalaman penulis ketika menyertai rombongan bersama rakan ke Sungai Chao Phraya atau Menam Chao Phraya di Thailand beberapa tahun lalu. Bagi rakyat tempatan, ikan di sungai terpanjang dan terpenting di Thailand itu dianggap suci. Budaya setempat menidakkan ikan terbabit menjadi sajian di meja makan berbanding menu enak yang menjadi kegemaran masyarakat di Malaysia.
Foto
RUSHDI terbabit dengan Projek Kluster Ternakan Ikan Sangkar Sungai Temerloh.
Foto
ADNAN menunjukkan kaedah penternakan ikan patin sangkar.

Senarionya, ikan patin menjadi hidangan istimewa bagi penduduk di Pahang terutama di Temerloh. Rasanya yang enak berbanding ikan lain me­nyebabkan spesies itu sentiasa menjadi buruan peng­gemarnya. Lantaran itu gerai dan restoran menjual menu ikan patin tempoyak bertambah umpama cendawan tumbuh selepas hujan. Ikan patin atau nama saintifiknya Pangasius sutchi adalah spesies ikan air tawar jenis meserba yang mendiami kawasan sungai dan tasik.

Ia mempunyai dua sengat di kiri dan kanan serta satu di belakang badan, tidak bersisik dan lembut. Terdapat beberapa jenis ikan patin yang biasa didapati di daerah berkenaan seperti patin muncung, buah, juara dan sangkar. Kembara Media Perikanan 2014 anjuran Jabatan Perikanan, baru-baru ini mendekatkan penulis dengan industri penternakan ikan patin sangkar Sungai Pahang.
Foto
PATIN diperah limau untuk menambah keenakannya.
Foto
MUHAMAD Rizal bersama ikan patin tempoyak.

Bukan saja melihat aktiviti penternakan ikan patin sangkar di Sungai Pahang, tetapi mendekati usahawan tani dilahirkan agensi itu. Penulis bertemu penternak ikan patin sangkar terkenal iaitu Rushdi Ismail. Rushdi, 48, terbabit dengan Projek Kluster Ternakan Ikan Dalam Sangkar Sungai Pahang.

Dalam meningkatkan rantaian pengeluaran, Rushdi turut membekalkan ikan patin segar kepada pemilik restoran di sekitar Temerloh. Menu patin tempoyak sajian Go’ Bang Maju Patin Tempoyak yang diusahakan Muhamad Rizal Rosley turut meng­gunakan ikan patin segar.

Jujur­ nya ada beza antara patin yang diternak di sangkar dan juga kolam. Rasanya lebih enak jika diternak di sangkar kerana persekitaran air sungai yang sentiasa mengalir, selain tekstur dagingnya lebih padat. Ikan patin kolam pula berbau lumpur dan mempunyai kandungan lemak lebih tinggi.

Pengarah Perikanan Negeri Pahang, Adnan Hussain berkata, Projek Kluster Ternakan Ikan Dalam Sangkar Sungai Pahang adalah cetusan idea Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani, Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob.

“Usaha itu untuk menggalakkan generasi Y menceburi bidang pertanian.
“Kaedah penternakan yang dicadangkan adalah sangkar membabitkan belia (Agropreneur Muda) dan bakal mewarnai landskap pada masa depan,” katanya.

Tujuan projek itu untuk menyusun semula aktiviti akuakultur bagi pengusaha kecil dan sederhana berdasarkan kesesuaian kawasan perairan dan kawalan biosekuriti. Meningkatkan pendapatan pengusaha melalui peningkatan produktiviti pe­ngeluaran, kualiti dan harga pasaran yang tinggi.

Selain itu projek dilaksanakan bagi menerapkan amalan akuakultur baik dan prinsip biosekuriti ternakan. Tiga daerah yang dipilih di sepanjang Sungai Pahang adalah Pekan, Temerloh dan Bera. Menurutnya, Jabatan Perikanan membantu menyediakan empat sangkar kepada peserta terbabit, manakala peserta menyediakan sendiri lapan sangkar tambahan.

“Sasaran kerajaan mening­katkan pendapatan penternak terbabit kepada RM5,000 sebulan dengan kaedah penternakan lebih sistematik serta berkonsep­kan Amalan Akuakultur Baik,” katanya.

Di Temerloh katanya, ikan patin adalah spesies utama aktiviti penternakan ikan sangkar.

“Setakat ini, ada 122 penternak patin sangkar di Temerloh dengan pengeluaran 4,876 tan metrik setahun membabitkan 1,668 sang­kar,” katanya. Sebanyak 70 tan ikan patin diperlukan di Temerloh dan ia meningkat hingga 100 tan sebulan pada musim perayaan.
“Permintaan melebihi penawaran, justeru bekalan patin dari luar terpaksa dibawa bagi menampung permintaan itu,” katanya.

Jabatan Perikanan katanya mengambil langkah dalam melaksanakan perancangan jangka panjang untuk meningkatkan pengeluaran sumber protein tempatan.

“Antaranya meningkat­kan pengeluaran ikan patin sangkar di Sungai Pahang,” katanya.

Jabatan juga mengenal pasti 118 pengusaha ikan patin sangkar termasuk 50 belia di sepanjang Sungai Pahang.

“Ia membabitkan daerah Temerloh, Bera dan Pekan dengan sasaran menambah sangkar mereka, selain membantu membaiki sang­kar sedia ada yang rosak,” katanya.

Mengenai projek kluster ikan sangkar, katanya peserta akan memperoleh bantuan empat unit sang­kar.

“Kita tidak boleh memberi bilangan sangkar lebih besar bagi mengelak sebarang gangguan dari segi pusingan modal.
“Jabatan melatih 50 penternak di Pusat Pengembangan Akuakultur Perlok (PPA Perlok),” katanya.

Bimbingan berbentuk latihan asas dan lanjutan ditawarkan kepada golo­ngan sasar untuk mendapat­kan kemahiran secukup­nya. Ia bagi memastikan mereka menguasai teknik penternakan dengan betul supaya hasil ternakan dapat dikeluarkan secara maksimum. Projek dimulakan tahun ini dijangka selesai sepenuh­nya (selesai) dalam masa dua tahun.

Istimewanya patin sang­kar Sungai Pahang lebih baik kerana menggunakan kaedah amalan penternakan yang disyorkan Jabatan Perikanan.

“Penternak memberi makan menggunakan pelet bukannya perut ayam.
“Apabila kaedah penternakan lebih baik, hasil ikan juga lebih berkualiti,” katanya.

Paling penting, air su­ngai yang sentiasa mengalir termasuk kawasan lembangan yang membesar menjadikan kualiti ikan diternak juga lebih baik.

“Atas faktor itu juga menyebabkan ramai peng­gemar patin sungai sanggup datang dari jauh semata-mata mahu menikmati ikan segar dari sumber semula jadi,” katanya. (myMetro)

Lihat sebelum ini..
E-Buku IH-68: Kisah-kisah Jom Kreatif (3)
E-Buku IH-68: Kisah-kisah Jom Kreatif (3)